Dari Praktis ke Berisiko: Meninjau Pembakaran Sampah di Lingkungan Desa
Selama observasi lapangan, mahasiswa KKN melakukan wawancara dengan warga terkait pengelolaan sampah di lingkungan setempat. Hasil wawancara menunjukkan bahwa Desa Patrol Baru belum memiliki Tempat Pembuangan Sementara (TPS) sendiri, sehingga pengelolaan sampah masih dititipkan ke TPS desa lain. Pemerintah desa telah menetapkan iuran kas sampah sebesar Rp15.000 per rumah tangga sebagai upaya mendukung pengelolaan tersebut. Namun, partisipasi masyarakat belum optimal karena sebagian warga memilih untuk tidak mengikuti pengelolaan sampah desa dan mengelola sampah secara mandiri.
Salah satu praktik pengelolaan mandiri yang banyak dilakukan adalah pembakaran sampah, khususnya sampah anorganik. Praktik ini dipilih karena dianggap praktis dan tidak memerlukan biaya tambahan. Pembakaran biasanya dilakukan di sekitar lingkungan rumah tanpa pengelolaan khusus terhadap asap yang dihasilkan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pembakaran sampah masih menjadi kebiasaan yang cukup umum dalam pengelolaan limbah rumah tangga di wilayah tersebut.
Potret sampah dikumpulkan di pinggir sungai untuk dibakar, di Desa Patrol Baru.
Pembakaran sampah terbuka menyebabkan polusi udara karena menghasilkan partikel-partikel kecil yang mudah terhirup manusia. Partikel hasil pembakaran ini dapat memicu berbagai gangguan kesehatan, terutama iritasi saluran pernapasan. Studi menunjukkan bahwa paparan asap pembakaran sampah dapat menjangkau individu meskipun berada beberapa meter dari sumber pembakaran, sehingga masyarakat yang membakar sampah di pekarangan rumah tetap berisiko terpapar. Partikel halus seperti PM₁₀ dan terutama PM₂.₅ diketahui dapat masuk ke saluran napas bagian dalam dan dikaitkan dengan iritasi pernapasan pada orang dewasa serta peningkatan infeksi saluran pernapasan pada anak-anak sebagai dampak jangka panjang. Selain itu, paparan partikulat halus dari pembakaran terbuka juga berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular dan gangguan paru kronis.
Selain partikel debu, pembakaran sampah terbuka juga menghasilkan senyawa berbahaya seperti polycyclic aromatic hydrocarbons (PAHs), dioksin, dan furan yang bersifat toksik dan karsinogenik. Senyawa-senyawa ini terbentuk dari pembakaran tidak sempurna bahan organik maupun plastik dan dapat masuk ke tubuh melalui inhalasi. Paparan jangka panjang terhadap zat tersebut diketahui berkaitan dengan peningkatan risiko kanker, gangguan sistem imun, serta efek toksik lainnya pada manusia. Oleh karena itu, praktik pembakaran sampah di lingkungan permukiman tidak hanya berdampak pada kenyamanan udara tetapi juga berpotensi menimbulkan risiko kesehatan serius bagi masyarakat sekitar.
Berdasarkan kondisi tersebut, permasalahan pengelolaan sampah masyarakat perlu menjadi perhatian dan fokus utama bagi pemerintah Desa Patrol Baru dalam upaya mencegah munculnya berbagai risiko penyakit yang tidak diinginkan. Langkah awal yang dapat dilakukan adalah meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah yang baik dan berkelanjutan. Edukasi kepada masyarakat perlu menekankan alasan mendasar mengapa pengelolaan sampah menjadi krusial, termasuk dampak kesehatan yang dapat ditimbulkan dari praktik pembakaran sampah maupun pembuangan sampah yang tidak tepat. Dengan pemahaman yang memadai, masyarakat diharapkan tidak hanya mengetahui risiko yang ada, tetapi juga memiliki motivasi untuk mengubah perilaku pengelolaan sampah sehari-hari.
Selain peningkatan kesadaran, upaya lanjutan yang bersifat solutif perlu dikembangkan agar masyarakat memiliki alternatif pengelolaan sampah yang lebih aman dan aplikatif. Program penyuluhan mengenai pengolahan sampah organik menjadi kompos dapat menjadi salah satu pilihan yang relevan, mengingat metode ini sederhana, ramah lingkungan, dan berpotensi memberikan manfaat ekonomi. Di samping itu, pengembangan bank sampah dapat mendorong masyarakat untuk memilah sampah anorganik serta meningkatkan partisipasi melalui insentif ekonomi. Pendekatan yang partisipatif dan berbasis kebutuhan lokal diharapkan mampu meningkatkan minat serta keterlibatan masyarakat dalam mengelola sampah secara mandiri dan bertanggung jawab.
Dengan adanya kombinasi antara edukasi, pendampingan, dan penyediaan solusi yang praktis, pengelolaan sampah di Desa Patrol Baru diharapkan dapat berjalan lebih optimal. Upaya tersebut tidak hanya berkontribusi pada pelestarian lingkungan, tetapi juga menjadi langkah preventif dalam menjaga kesehatan masyarakat secara berkelanjutan.
Artikel ini mengambil referensi dari sumber-sumber berikut:
- Springer Nature Link. "Public health burden of polycyclic aromatic hydrocarbons in the East African environment: a systematic review"
- Science direct. "Source profiles of PM2.5 emitted from four typical open burning sources and its cytotoxicity to vascular smooth muscle cells"


Komentar
Posting Komentar