Village to Global : Potensi SDM Lokal, Menuju Pasar Kerja Internasional

Selama pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata di Desa Patrol Baru, banyak sekali informasi, ilmu dan juga pandangan baru yang penulis dapatkan. Berdasarkan hasil observasi dari perangkat desa maupun warga sekitar, mayoritas masyarakat Desa Patrol Baru bekerja sebagai buruh tani, petani, pedagang, wiraswasta, dan menarik nya tidak sedikit juga masyarakat yang memilih bekerja di luar negeri. 

            Gambar 1, Masyarakat Desa Patrol Baru 

Fenomena ini muncul dari cerita warga serta hasil percakapan dengan perangkat desa pada minggu observasi. Dari temuan tersebut, dapat dilihat bahwa bekerja di luar negeri telah menjadi salah satu pilihan ekonomi bagi sebagian masyarakat Desa Patrol Baru. Perangkat desa juga menyampaikan bahwa beberapa warga memilih bekerja di negara seperti Taiwan, Singapura, Jepang, serta kawasan Timur Tengah, yang menunjukkan adanya keterkaitan antara potensi tenaga kerja lokal dengan pasar kerja internasional. Hal ini juga sejalan dengan kondisi ketenegakerjaan nasional. Dikutip dari mediaindonesia.com, Data Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) pada Januari - Agustus 2024 terdapat 207.090 Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang ditempatkan di berbagai negara. Data ini menunjukan bahwa migrasi tenaga kerja ke luar negeri masih menjadi pilihan ekonomi yang cukup signifikan bagi masyarakat indonesia, termasuk dari wilayah pedesaan. 

    Gambar 2, Masyarakat Desa Patrol Baru

Akan tetapi, kesiapan keterampilan dan kemampuan sumber daya manusia juga mempengaruhi tingkat penerimaan tenaga kerja di pasar internasional. Salah satu bentuk penguatan kemampuan sumber daya manusia yang penting untuk dipersiapkan adalah pelatihan bahasa asing, karena bahasa memiliki peran krusial sebagai alat komunikasi utama dalam lingkungan kerja lintas negara. 

Selain kemampuan bahasa, pemahaman terhadap budaya kerja dan etika di negara tujuan juga menjadi aspek yang tidak kalah penting. Pengetahuan mengenai budaya kerja akan membantu tenaga kerja menyesuaikan diri dengan ritme kerja, kedisiplinan, serta pola pengambilan keputusan. Oleh karena itu, informasi dasar terkait budaya kerja dan etika perlu disampaikan dan dipersiapkan sejak awal. Penyampaian informasi tersebut dapat dilakukan melalui media yang mudah dipahami dan menarik, seperti pembuatan guide book yang tidak bersifat monoton. Dalam pembuatan guide book memanfaatkan teknologi seperti Augmented Reality yang memberikan pengalaman belajar lebih interaktif dan modern.

Selain pelatihan bahasa asing dan pemahaman budaya kerja, peningkatan keterampilan teknis secara profesional juga diperlukan. Pelatihan keterampilan ini dapat disesuaikan dengan kebutuhan pasar kerja di negara tujuan. Sebagai contoh, Taiwan memiliki kebutuhan tenaga kerja pada sektor teknologi, sementara Jepang banyak menyerap tenaga kerja di bidang pertanian. Penyesuaian pelatihan dengan kebutuhan pasar kerja, diharapkan dapat meningkatkan daya saing tenaga kerja dari Desa Patrol Baru di pasar kerja internasional.

Berdasarkan pembahasan tersebut, penguatan sumber daya manusia tidak dapat dilakukan secara parsial, tetapi memerlukan dukungan dan keterlibatan berbagai pihak. Pemerintah daerah memiliki peran strategis dalam menyediakan wadah pelatihan yang terarah dan berkelanjutan guna menunjang serta memfasilitasi masyarakat desa yang ingin berkembang dan bekerja di luar negeri. Kerja sama antara pemerintah daerah, lembaga pelatihan, serta pihak terkait lainnya menjadi langkah penting dalam menciptakan sistem pengembangan SDM yang lebih terstruktur. 

Selain mempersiapkan masyarakat sebelum bekerja di luar negeri, proses pembinaan dan pendampingan juga perlu diperhatikan hingga pasca kepulangan tenaga kerja ke Indonesia. Pembimbingan ini bertujuan agar pengalaman dan keterampilan yang diperoleh selama bekerja di luar negeri dapat dimanfaatkan secara optimal, baik untuk pengembangan diri maupun kontribusi di lingkungan asal. Dengan adanya pendampingan yang berkelanjutan, pekerja migran diharapkan tidak hanya kembali sebagai pencari kerja, tetapi juga sebagai individu yang mampu berkembang dan berperan aktif dalam pembangunan di daerahnya.

Pada akhirnya, pengalaman kerja internasional seharusnya tidak berhenti sebagai capaian individu semata, tetapi dapat menjadi sumber pengetahuan dan pembelajaran bagi masyarakat sekitar. Transfer ilmu, keterampilan, dan etos kerja yang diperoleh di luar negeri berpotensi mendorong peningkatan kualitas SDM lokal serta memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa secara berkelanjutan.

Komentar

Postingan Populer